Prinsip-Prinsip Reportase Investigasi

by: Mung Pujanarko

Apa persamaan antara wartawan/ jurnalis /reporter dengan penambang?. Ternyata dalam urusan  gali-menggali (digging), wartawan dan penambang idealnya tidak puas dengan hasil yang ada dipermukaan. 

Melvin Mencher dalam bukunya (Principles of Reporting, 2007) mengatakan :”Reporter atau wartawan itu adalah seperti penambang atau pencari  bahan tambang  (prospectors)”. Dalam arti, reporter yang baik selalu kurang  senang dengan bahan-bahan permukaan, untuk itu reporter/jurnalis yang baik kadang  menggali ke dalam, meski  kadang-kadang tak tertembus atau kurangnya waktu mengganggu pencarian, dan mungkin perlu untuk berhenti menggali dan untuk membuat hubungan (connections) dengan apa yang telah muncul.

Jika memungkinkan, wartawan/reporter terus menggali sampai dia mencapai ke bagian bawah hal, sampai -secara jurnalistik- pada lapisan kebenaran dari peristiwa ini digali selengkap-lengkapnya. Karena itu seorang jurnalis idealnya seperti prospektor. Melvin Mencher mengatakan bahwa: “Sensitivitas hidung wartawan untuk berita-sangat membantu”. Dalam arti, insting wartawan untuk selalu ingin menggali fakta memungkinkan kebenaran sejati  terungkap. Selain itu, wartawan juga dikenal memiliki akses ke beberapa sumber panduan nyata. Pertama, wartawan itu tahu bahwa pengamatan (observasi) dirinya secara umum lebih dapat diandalkan daripada pengamatan banyak sumber, yang belum pernah dilatih untuk melihat dan mendengar secara akurat.
Ketika dipaksa untuk bergantung pada beberapa satu pengamatan yang lain, para wartawan menggunakan berbagai tes untuk menentukan kehandalan sumber. Ketika wartawan harus menggunakan sumber dari tangan kedua atau ketiga atau bila ia meragukan pengamatan sendiri ia tahu di mana harus mencari bahan verifikasi. Sebagai seorang jurnalis  tugas reporter memang menggali informasi yang dipandu oleh pemahaman tentang sifat pelaporan.

Sedangkan Pelaporan (reporting) sendiri menurut Mencher adalah proses pengumpulan fakta-melalui observasi, penalaran dan verifikasi agar dapat disajikan sebagai berita pada  pembaca, pemirsa atau pendengar ide yang baik dari apa yang terjadi.
Pekerjaan wartawan itu adalah dengan melihat di bawah permukaan untuk realitas yang mendasarinya. Lincoln Steffens, wartawan terkenal mengatakan: “Tugas wartawan adalah meringankan  dalam cahaya dan udara” artinya  wartawan melihat bahwa dasar pekerjaan mereka pada keyakinan dan  tugas mereka adalah untuk melihat kebenaran yang relevan untuk orang-orang yang tidak dapat menyaksikan atau memahami hal yang mempengaruhi mereka. Steffens sebagai anggota staf dari The Washington Post mendefinisikan reportase: ”Ini adalah tugas mengungkapkan lapisan kebenaran yang ada di sekitar kita, lapisan pemahaman yang menantang kita.”

Untuk itu Melvin Mencher dalam, mengatakan  bahwa dalam reporting  dikenal ada 3 layer atau lapisan, yakni :
1. Lapisan yang pertama adalah informasi yang bersumber dari berbagai nara sumber yang resmi atau asli.
2. Sementara layer 2 atau lapisan 2 adalah berita atau informasi yang diperoleh dari kejadian yang spontan. Termasuk lapisaan yang kedua adalah  kegiatan memverifikasi bahan- bahan latar belakang untuk tulisan, dan semua hasil pengamatan reporter (wartawan).
3. Sementara lapisan ketiga (layer 3) adalah lapisan yang membutuhkan penggalian fakta secara mendalam. Karena dalam lapisan ini dibutuhkan penjelasan – penjelasan yang lebih mendalam dan pemahaman yang didasari fakta  dari seorang reporter, akan sebuah masalah yang  muncul. Jadi dalam layer (lapisan) ketiga ini  lebih dari sekedar melaporkan namun telah menginvestigasi berbagai macam fakta serta dapat meng-interpretasikan fakta- fakta itu.
Layer 1 atau lapisan pertama pelaporan adalah tujuan pelaporan secara transkripsi. Artinya, reporter secara hati-hati dan akurat mengutip  dari catatan, pidato,  atau konferensi pers. Inilah yang disebut pula  dalam Mencher (2007) yakni kekuatan dan keterbatasan dari  jurnalisme obyektif.

Mencher (2007;Ch9) mengatakan, Layer 1 (lapisan 1) adalah sumber informasi yang paling faktual karena  data  yang digunakan adalah gabungan dari  berita dari konferensi pers, handout, pernyataan, pidato, pernyataan, perintah, keputusan, keputusan dan pendapat. Bahan ini berasal  dari dan dikendalikan oleh sumbernya.

Mengumpulkan Fakta pada lapisan 1 adalah seperti wartawan yang menggali pada lahan penambangan terbuka. Banyak tugas wartawan dalam lapisan 1  adalah mengkonfirmasi,  kemudian  menyortir dan mengatur kembali fakta-fakta yang disampaikan, juga memferifikasi alamat dan tanggal serta  memeriksa ejaan nama. Pada beberapa media , tugas penanganan rilis ini dilakukan  oleh petugas re-writer karena pekerjaan verifikasi data pada layer 1 pada dasarnya adalah menulis ulang semua bahan, tidak melaporkan.
Namun  menurut Melvin Mencher (2007;Ch9) justru kini kebanyakan cerita yang muncul di koran dan di radio dan televisi didasarkan pada sumber bahan layer 1 yang berasal  dari konferesi pers dan pernyataan-pernyataan resmi pemerintah.

Layer 2 (lapisan 2)
Dalam lapisan ini banyak kejdian yang sifatnya spontan, meskipun kebanyakan reporter atau wartawan yang baik menurut Melvin jarang yang menginginkan kejadian yang spontan. Dalam layer ini reporter membutuhkan pemikiran tajam untuk lebih dari sekadar melaporkan kejadian yang spontan semata. Karena ternyata banyak hal yang terlihat spontan namun ternyata mengandung unsur pseudo event  (kejadian palsu).  Yakni kejadian yang terlhat spontan namun ternyata telah dibuat atau di-setting oleh pihak  tertentu agar terlihat spontan.

Melvin mencontohkan banyak pseudo event yang diatur oleh pihak politisi. Misalkan seorang politisi partai Republik  Amerika yang sengaja mengatur demonstrasi mendukung Presiden Nixon di  tahun 1972. Dikisahkan  para pendemo yang diliput luas oleh media massa terus berteriak agar Nixon dipilih 4 tahun lagi. Hal ini terlihat spontan, karena itu aksi ini mendapat sorotan media massa, namun sebenarnya telah diatur sedemikian rupa sehingga tercipta apa yang dinamakan pseudo events atau kejadian palsu.

Layer 3 (lapisan 3)
Dalam lapisan ketiga ini telah sampai dalam tahapan investigative reporting atau melaporkan secara investigasi mendalam. Menurut Melvin dalam lapisan ketiga ini reporter telah berhasil menemukan fakta- fakta yang signifikan dari hasil penggalian fakta dan data nara sumber,  kemudian repoter telah menemukan interpretasinya  atau pemahaman yang menyeluruh terhadap sebuah persoalan.
Dalam hal ini sebuah investigative reporting yang baik akan menghasilkan impact atau akibat yang luas  di mata publik, seprti pengungkapan ‘skandal water –gate’  yang melibatkan Presiden Nixon yang diungkapkan oleh wartawan The Washington Post. Serta adanya laporan mendalam diberbagai belahan Amerika Serikat dimana reporter telah berbulan- bulan mengumpulkan fakta sehingga terjadi laporan mendalam yang berakibat luas pada masyarakat Amerika Serikat.
Investigative Reporting (Pelaporan Investigasi)
Melvin Mencher  memberi ilustrasi bahwa   ada sebuah kisah tentang  seorang reporter bernama Judy Johnson dari Koran The Anniston Star yang memiliki daya reportase investigative yang tinggi. Satu saat Judy  mendengar bahwa sebagian masyakarat Alabama kesulitan dalam memperoleh kredit resmi di bank lokal. Karena tertarik dengan peristiwa Itu Judy lalu menghabiskan hampir sebulan waktunya di  Alabama untuk memverifikasi segala informasi tentang peristiwa itu.

Jadi dalam waktu sebulan itu Judy belum melakukan penulisan pelaporan namun hanya menginvestigasi dan memverifikasi semua fakta dan data. Kemudian dari berbagai wawancara yang didukung oleh  fakta dari berbagai nara-sumber itu. Judy menemukan fakta yang menarik bahwa ternyata ada kegiatan lintah darat besar yang mengakibatkan warga kesulitan memperoleh kredit di bank resmi.  Ada sebuah kegiatan rentenir yang teroganisir rapi sehingga menjerat beberapa penduduk Alabama.

Seperti kisah pasangan tua di Alabama yang tadinya hanya meminjam 4000 US Dollar pada lembaga rentenir di luar bank ini, lalu pinjamannya membengkak  menjadi 50.000 US Dollar dalam jangka waktu setahun, karena tingginya bunga oleh  kegiatan  rentenir illegal ini.  Judy juga menemukan fakta bahwa ternyata  pihak oknum pejabat pemerintah county  lokal juga terlibat dengan mendukung kegiatan rentenir ilegal yang dijalankan oleh oknum tertentu yang kuat di Alabama, sehingga menjerat penduduk lokal.
Atas laporan investigasinya ini Judy Johnson kemudian mendapatan  penghargaan jurnalistik. Judy Johnson mengatakan: “Jangan menjadi hand out reporter atau wartawan hand out yang hanya pasrah menerima sumber dari hand out press conference saja, tapi sedialah untuk menggali lebih dalam”.

Sementara itu ada  tips yang berguna dari seorang wartawan investigasi   yakni Bob Greene dari Associated Press (AP),  Bob Greene menunjukkan tips bahwa reporter yang baik haruslah tetap melakukan 4 hal diantaranya :
a. Mintalah sumber yang lebih lengkap dari sekedar hand out  yang diberikan secara resmi oleh nara sumber jadi jangan ragu untuk mencari sumber lainnya yang lebih lengkap.
b. Selalu melakukan check dari komentar nara sumber sebelum kita menyiarkan atau mencetaknya.
c. Secara hati-hati mengumpulkan berbagai fakta, dan harus yakin bahwa  fakta tersebut sesuai dengan konteks.
d. Selalu mengantisipasi perkembangan peristiwa di lapangan.

Melvin Mencher menambahkan setidaknya ada guidelines to follow atau beberapa langkah panduan untuk diikuti olehs eorang reporter diantaranya adalah :
1. Pasti ada story (kisah)  di balik  hampir semua kejadian. Melvin mengingatkan kita tentang skandal ‘watergate’ Presiden Amerika Nixon yang kemudian berujung pada pengunduran diri Presiden Nixon.
2. Selalu memeriksa nama dalam buku telepon, search engine internet, panduan dalam sebuah kota dan kamar mayat untuk memastikan penulisan nama adalah benar.
3. Ikuti uangnya (follow the money). Dalam investigasi berita, reporter harus selalu mengikuti dan memahami lalu lintas mengalirnya uang, dari mana dan ke mana serta siapa yang menanganganinya. Misalnya dalam sebuah sumbangan kampanye politik atau kemana  perginya uang pajak, serta kasus yang melibatkan sejumlah besar uang lainnya.
4. Jadilah pemberani. Kerjakanlah apa yang  tidak mau dikerjakan karena takut untuk berbuat penyelidikan. Kalau kita tidak berani maka kita tidak bisa menggali fakta secara mendalam. Dan kita akan terjebak dalam situasi yang tidak kita inginkan di masa depan.
5. Pertanyakan semau asumsi. Melvin Mencher mengatakan agar kita berani menanyakan semua asumsi yang umum dalam sebuah kisah.
6. Pertanyakan kebijakan otoritas. Jadi seorang wartawan harus selalu bersikap dan berpikir kritis menanggapi semua kebijakan pihak yang berwenang, kritis dalam arti selalu menanyakan kepada pejabat pembuat kebijakan tentang kebijakan yang dikeluarkannya. (*)

Oleh : Mung Pujanarko (mahasiswa magister jurnalistik IISIP Jakarta)

source: http://mung-pujanarko.blogspot.com/2012/01/prinsip-prinsip-reportase-investigasi.html

pb: mattula_ada@live.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: