Etika Bertanya di Jalanan Makassar (Sebuah Pengalaman Pribadi)

by: Indra Sastrawat

Siang tadi ketika sedang mengisi bensin, datanglah pengendara motor mereka berdua dengan memakai seragam SMU. Tanpa basa-basi dulu seperti mengucapkan salam, mereka langsung menghujani saya dengan pertanyaan “pak, dimana jalan kebahagian ???” karena bingung “saya jawab tidak tahu”, dan seperti kedatangannya tanpa diundang mereka pergi tanpa pamit dan salam.

Rupanya dari tadi seorang ibu sedang mengamati, langsung berkata ke saya “orang macam mereka tidak usah dilayani, sombong karena tidak mau turun dari motornya”

Di daerah kami etika sangat di agungkan sekali, salah satunya etika untuk turun dari kendaraannya saat ingin bertanya sesuatu. Ini boleh jadi hal yang sepele tapi bisa menimbulkan ketersinggungan. Ada cerita dimana seorang pengendara motor yang sementara mencari rumah temannya, dari tadi dia mondar-mandir dengan motornya yang berknalpot bising, rupanya alamat dia tidak menemukan alamat yang dicarinya. Inisiatif pun datang dia bertanya ke sekelompok pemuda di depan mulut gang, masalahnya si pengendara tadi bertanya dari atas motor dan motor masih dalam keadaan menyala/hidup. Merasa tersinggung sekelompok pemuda tadi memukul lelaki tersebut.

Betapa Orang Bugis Makassar menjunjung etika seperti ketika lewat dihadapan seseorang kami diajarkan untuk sopan sambil berujar “tabe” yang artinya permisi.

Sampai-sampai untuk menjaga prilaku kesopanan bertutur sekalipun, orang Bugis Makassar sampai melanggar etika berbahasa Indonesia  versi JS. Badudu, kepada yang lebih tua atau kepada teman bicara “kata “kau” digantikan dengan kata “Kita” yang mengandung makna penghormatan, di daerah kami kata “kau” berarti meremehkan lawan bicara”. Contonya ketika bertanya apakah dia sudah makan atau belum, kami mengucapkan kalimat “apa kita sudah makan” kata “kita” merupakan kata ganti “kau”.

Makanya seringkali banyak pendatang yang terkecoh dengan cara bertutur orang Bugis Makassar. Etika tidak hanya dalam bentuk bahasa tubuh tapi juga dalam tutur kata.

Kembali ke etika dalam bertanya di jalanan, saya pernah juga sekali mendapatkan cemooh. Ceritanya waktu itu saya mencari alamat teman dari kampung, karena buru-buru saya tidak turun dari motor saya dan langsung bertanya ke tukang becak. Karena saya dianggap kurang sopan, si tukang becak diam saja, untungnya saya cepat sadar dan segera turun dan minta maaf. Seorang tukang becak yang mungkin pendidikannya hanya setingkat SD bisa menyadarkan saya tentang sebuah etika.

wb: indrasastrawat@yahoo.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: